Jangan Remehkan Risiko! Abidin: Uap Ciremai Dikelola Sembarangan Bisa Picu Letusan

Kuningan,-Rencana pengembangan energi panas bumi di kawasan Gunung Ciremai semakin mencuat menjadi perbincangan hangat. Di satu sisi, sumber energi ini menjanjikan kemandirian pasokan listrik dan kemajuan ekonomi daerah. Di sisi lain, aspek pelestarian lingkungan serta risiko yang menyertainya juga tidak boleh diabaikan begitu saja.

 

Pengamat Kebijakan Publik Abidin, S.E. menyoroti hal tersebut saat diwawancarai, Rabu (9/9/2026). Menurutnya, pengembangan ini membawa peluang besar sekaligus tanggung jawab yang sangat berat, mengingat status Gunung Ciremai yang bukan gunung mati.

 

Panas bumi menawarkan keunggulan yang menjadikannya salah satu sumber energi paling diandalkan:

 

– Sumbernya tak akan habis selama bumi masih berdenyut

– Emisi gas rumah kaca jauh lebih rendah dibanding bahan bakar fosil

– Mengurangi ketergantungan impor energi, memperkuat ketahanan nasional

– Membuka lapangan kerja luas, termasuk tenaga kerja lokal

– Pasokan listrik stabil 24 jam, tidak bergantung cuaca

– Berpotensi mendongkrak pariwisata melalui pemanfaatan sumber air panas alami

 

Sementara Abidin menyampaikan peringatan penting yang tidak boleh diabaikan:

 

“Perlu dipahami bersama: Gunung Ciremai adalah gunung aktif. Kalau uap yang ada di perut gunung ini tidak dikeluarkan atau dikelola dengan sembarangan, ke depannya rawan sekali — bisa menumpuk tekanan dan memicu letusan. Jadi setiap langkah mengandung risiko.”

 

Lebih jauh Abidin menegaskan, sebelum eksploitasi dilakukan, kajian lingkungan wajib dilakukan secara sangat ketat:

 

“Oleh karena itu, sebelum pelaksanaan eksploitasi geotermal, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL harus dikaji secara cermat, mendalam, dan ekstra hati-hati. Jangan sampai keuntungan sesaat mengorbankan keselamatan ribuan warga yang tinggal di kaki dan lereng gunung ini,” tegas Abidin.

 

 

Selain risiko tekanan uap dan aktivitas vulkanik, sejumlah aspek lain juga harus mendapat perhatian serius:

 

– Biaya investasi awal sangat tinggi

– Risiko penurunan permukaan tanah dan kerusakan ekosistem hutan lindung

– Potensi pencemaran mata air yang menjadi sumber kehidupan warga

– Emisi gas berbahaya seperti hidrogen sulfida

– Kemungkinan gempa mikro akibat aktivitas pengeboran dan penyuntikan cairan

 

 

Gunung Ciremai bukan sekadar lokasi proyek ia adalah sumber air, penyangga iklim, sekaligus jantung identitas Kabupaten Kuningan.

 

“Pengembangan energi boleh berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan gunung ini. Transparansi, partisipasi masyarakat, dan pengawasan ketat harus berjalan seiring. Manfaat boleh didapat, tetapi keselamatan warga harus menjadi prioritas nomor satu,” pungkas Abidin.

 

 

(H.Aboy)

 

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *