40 Hektar Hutan Gunung Ciremai Terbakar, Masih Ada Titik Api

Kuningan,-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), meskipun dinyatakan bahwa api sudah padam ternyata terdeteksi ada kepulan asap dan titik api diarah Erpah dan Panjakroma, Jumat(11/09/2026).

 

Berdasarkan update data kebakaran itu pertama kali terdeteksi Senin (7/9/2026) di kawasan Cileutik lalu merembet ke Blok, Panjakroma, jalan Maling dan Blok Karang Dinding.

Tim BPBD, TNGC, TNI/Polri dan relawan dikerahkan untuk memadamkan kobaran api, yang sebagian besar membakar pohon Sono keling dan semak belukar..

Tim berhasil melakukan pemadaman dan pendinginan hingga Rabu (9/9/2026). Kobaran apipun dinyatakan sudah padam.

Berdasarkan update data tercatat seluas 40 Hektar kawasan hutan TNGC terbakar. Menyusul kebakaran sebelumnya di kawasan TNGC Blok Cirendang Desa Padabenghar, Kecamatan Pasawahan, pada tanggal 21 Juli 2026. Luas lahan yang terbakar sekitar 30 Hektar.

 

Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, turun langsung ke lokasi kebakaran, melihat kondisi terkini dari dekat sekaligus memastikan penanganan dilakukan secara maksimal oleh tim gabungan.

 

Menurut Bupati Dian, kebakaran bermula dari kawasan Blok Cileutik Senin (7/09). Api kemudian merambat ke sejumlah titik

Berdasarkan laporan, perkembangan sudah mulai padam di beberapa titik ujar Bupati Dian.

 

Meski sejumlah titik telah berhasil dipadamkan, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Asap masih terlihat di beberapa lokasi yang mengindikasikan adanya titik api yang belum benar-benar padam.

 

Menurut Bupati Dian, penanganan karhutla tidak cukup hanya memastikan kobaran api di permukaan telah hilang. Pemantauan dan proses pendinginan tetap harus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api.

 

“Persoalan di hutan itu kan tidak bisa dilihat hanya dari padam asapnya, karena dimungkinkan, dan saya lihat tadi ada beberapa titik yang belum padam sepenuhnya,” katanya.

 

Kondisi di lapangan semakin menantang karena angin bertiup cukup kencang di kawasan Kuningan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, api berpotensi melompat dan melewati sekat bakar yang telah dibuat petugas.

 

“Kita lihat ke arah atas, teman-teman mungkin ada yang membuat sekat bakar, tapi ini rawan karena angin besar di Kuningan hari-hari ini, jadi api itu menyeberang, melompat,” tuturnya.

 

Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kab. Kuningan Indra Bayu Permana, menyebut proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya akses menuju titik api yang terjal dan dipenuhi bebatuan, cuaca panas, arah angin yang berubah-ubah, serta keterbatasan sumber air.

 

Vegetasi yang kering akibat kemarau panjang turut mempercepat penyebaran api. Petugas gabungan pun harus melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan yang tersedia di lapangan.

 

“Memang ada beberapa kesulitan, di antaranya akses jalan cukup terjal dan banyak batu-batu, angin yang berubah-ubah arah, cuaca panas, sulitnya sumber air. Namun kita upayakan supaya sebaran api tidak meluas,” ujar Indra.

 

Dalam penanganan karhutla tersebut, personel gabungan dari BPBD Kabupaten Kuningan, Balai TNGC, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat peduli api (MPA) dikerahkan ke sejumlah titik.

 

Bupati Dian mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja siang dan malam untuk mengendalikan kebakaran di kawasan konservasi tersebut.

 

Ia menyampaikan apresiasi kepada BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Polres, Kodim, Yonif, jajaran Balai TNGC, serta seluruh relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

 

Bupati Dian mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan agar kebakaran segera dapat dipadamkan dan tidak kembali meluas.

 

 

(H.Aboy)

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *