Kuningan,-Polemik rencana penggantian Tugu Bola Dunia di Jalan Soekarno-Hatta, Kabupaten Kuningan, menjadi Tugu Kuda terus memanas. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Kuningan, Putu Bagiasna, menegaskan rencana tersebut tetap akan dilaksanakan, meskipun banyak pihak mempertanyakan keputusan tersebut.
Menurut Putu, revitalisasi kawasan tersebut merupakan bagian dari upaya penataan koridor Jalan Soekarno dan Jalan Hatta yang menjadi akses utama menuju pusat pemerintahan. Kawasan tersebut sudah lebih dari lima tahun belum tertata, baik trotoar maupun infrastruktur lainnya.
“Penggantian Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Kuda merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menampilkan identitas khas Kuningan di ruang publik. Kuda bersama sejumlah ikon lokal lainnya dinilai dapat merepresentasikan ciri khas Kabupaten Kuningan,” jelas Putu. Saat dihubungi Via Telpon Seluler. Rabu (7/10/2026).
Ia juga menegaskan Tugu Bola Dunia tidak berstatus cagar budaya, sehingga masih dapat diperbaiki dan diganti.
Putu mengungkapkan anggaran awal pembuatan Tugu Kuda berkisar Rp200 juta dengan nilai kontrak sekitar Rp190 juta. Kini diperlukan tambahan anggaran sebesar Rp50 juta, sehingga total menjadi Rp250 juta. Penambahan ini akan dibiayai melalui perubahan anggaran daerah.

Tinggi patung direncanakan sekitar 3,2 meter. Putu mengakui kualitas visual dan hasil akhir akan menjadi perhatian publik, terlebih setelah muncul penolakan di masyarakat.
“Izinkan kami memperbaiki agar lebih bagus. Kalau hasilnya kurang baik, itu justru akan menjadi bumerang bagi kami,” ujarnya.
Menanggapi keresahan masyarakat, Komisi III DPRD Kuningan yang diketuai Didit dari Fraksi Partai Golkar melakukan kunjungan langsung ke lokasi pembangunan Tugu.
“Kami mendapat tugas dari pimpinan DPRD untuk turun langsung mengumpulkan bahan dan keterangan di lapangan. Mulai dari proses pengerjaan, kondisi di lokasi, hingga penggunaan anggaran,” kata Didit.
Hasil pemantauan tersebut akan dilaporkan kepada pimpinan DPRD sebelum diambil keputusan lebih lanjut. Hingga kini, Komisi III belum menyampaikan kesimpulan akhir.
Sejumlah warga mempertanyakan alasan penggantian ikon yang sudah dikenal masyarakat luas. Warga berharap setiap perubahan tugu atau ikon publik melibatkan partisipasi masyarakat agar tidak menimbulkan kekecewaan.
(H.Aboy)

